Senin, 27 Juni 2011

DOA DAN IBADAH

Kalau hendak bertamu ke rumah panjang orang Dayak Iban, kita tidak boleh begitu saja naik ke rumah. Kita lebih dahulu harus meminta izin dengan bertanya di bawah kaki tangga: "Tau niki?" (boleh naik). Kalau dijawab dari atas: "Niki meh!" (naiklah), baru kita boleh naik ke rumah. Maksud kita minta izin itu adalah kalau-kalau di dalam rumah itu sedang berlaku aturan 'pemali' yang tidak memperkenankan untuk sementara orang asing dan bukan penghuni rumah untuk masuk rumah itu, karena bisa membawa malapetaka.

Sebelum masuk bait suci, setiap orang Israel disyaratkan untuk beranya lebih dahulu kepada Tuhan , siapa yang Dia perkenankan untuk menghadap Dia di baitNya yang suci.
Tuhan, siapa boleh manumpang di kemahMu? Siapa boleh diam di gunungMu yang kudus? (mazmur 15"1)
Mengapa pertanyaan itu dimajukan? Dan apa yang melatarbelakangi pertanyaan itu? Latar belakang pertanyaan itu dimajukan adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan yang kudus dan mulia di tempat suci di bait itu. Di sana bersemayam kemuliaan Tuhan. Alangkah dahsyatnya tempat itu. Ini adalah kemah Allah, maka setiap orang yang mau datang ke kemah itu lebih dahulu memohon perkenanan. Setiap orang yang mau menumpang atau bertamu hendaklah lebih dahulu meminta izin.
Di dalam Alkitab "menumpang", "bertamu", "orang asing" sering diartikan sebagai orang-orang yang mencari perlindungan. Mencari pertolongan dan perlindungan karena ada wabah atau musibah yang menimpa. Bait suci, kemah Allah adalah tempat bagi orang-orang yang beriman untuk mencari perlindungan di waktu kesukaran sedang melanda.

Dan atas pertanyaan pencari perlindungan itu, melalui imam dalam bait suci Tuhan menjawab. Dia yang boleh datang dan bertemu atau berlindung di bait suci Allah adalah:

Dia yang hidup tanpa cela, yang berbuat adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya. Orang itu tidak berjalan menyebarkan fitnah dengan lidahnya, tidak melakukan yang jahat terhadap temannya (mazmur 5:2-3)
Yang diperkenankan menjadi tamu Allah dalam baitNya ialah yang hidup tanpa cela. Tanpa cela bukan berarti hidup tanpa dosa dan salah, melainkan hidup dalam hubungan yang akrab dan dekat dengan Tuhan, yaitu yang tidak menyembah ilah-ilah lain. Tetapi tidak hanya mereka yang akrab hubungannya dengan Tuhan, melainkan juga di samping itu yang mempunyai hubungan dengan sesamanya secara baik. Yang tidak melakukan yang jahat terhadap sesamanya. Yang tidak mencela dan tidak memfitnah sesamanya.
Yang diperkenankan menjadi tamu Allah dalam baitNya adalah mereka yang menjalankan tugas jabatannya atau pekerjaannya sehari-hari dengan baik.
Yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi, yang tidak meminjamkan uang dengan riba, dan tidak menerima suap melawan orang yang yang tidak besalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya. (mazmur 15-4-5)
Melanggar sumpah, termasuk sumpah jabatan, sikap keliru terhadap uang yaitu makan riba dan makan suap, semuanya itu termasuk kejahatan terhadap sesama manusia. Dan praktek ini sering terjadi dan menjangkiti peradilan. Secara eksplisit hukum taurat melarang perbuatan menodai peradilan. (Keluaran 23:8, Ulangan 16:19) Mereka yang penuh dengan dedikasi melaksanakan tugasnya dan menegakkan kehormatan jabatannya, mereka itulah yang boleh menumpang, boleh minta perlindungan di bait suci.

Mazmur 15 ini menunjukkan kepada kita betapa eratnya hubungan antara doa dan hidup. Betapa sangat berkaitan antara ibadat dan melaksanakan kehendak Tuhan sehari-hari. Doa dan ibadah didukung oleh hidup yang benar dan yang sesuai dengan kehendak Allah.

Yesus Kristus menegaskan kembali dan menyempurnakan dan memenuhi ajaran ini. Ia berkata: "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Allah , melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga: (Matius 7:21)

Dalam ayat lain Ia mengatakan: "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu  di atas mezbah, dan engaku teringat akan sesuatu yang ada dalam hatimu saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu" (Maitus :23-24)

Yesus ialah jalan kita ke rumah Allah, ialah yang membawa kita ke bait suci Allah Bapa. Dalam kasih pengampunanNya ia membalikkan hati kita kepada Bapa. Dalam kehidupan sehari-hari pastilah pula banyak kali kita berkata dan berbuat yang tercela terhadap Tuhan dan terhadap sesama. Pastilah pula kita karena kelemahan tidak menegakkan sumpah jabatan kita, bersikap keliru terhadap uang dan sesama kita. Namun kita punya jalan untuk datang bertanya dan meminta untuk boleh mencari perlindungan di bait suci. Jalan itu adalah jalan Kasih yaitu Yesus.
Kesungguhan ibadah dan doa kita terletak dalam kasih dan pengampunan Tuhan Yesus. Kasih mendukung ibadah dan karya kita. Dan sebaliknya ibadah dan karya kita berlangsung dalam kasih, bermuara dalam kasih. Doa dan hidup dua pokok yang tak terpisahkan. Hidup adalah pengejawantahan dari ibadah dan doa, dan doa adalah napas dan nadi-nadi dari hidup.

Doa dan ibadah menjadi cermin spiritualitas kita yang memantulkan kemuliaan Allah melalui keseharian hidup kita




sumber : kumpulan renungan Pdt. Dr. Daud Palilu "Hidup Yang Penuh Pengharapan"

Tidak ada komentar: